Sabtu, 12 Agustus 2017

SEJARAH DESA PRENDUAN



 Sejarah Singkat
Pada zaman dahulu kala, tepatnya pada jaman pemerintahan kerajaan Sumenep yaitu, Gusti Raden Ayu Tirtonegoro Rasmana. Pada waktu itu kerajaan sumenep sedang di ancam kehancuran. Karena mereka mendengar kabar bahwa kerajaan Bali akan memerangi kerajaan Sumenep dan akan merebut daerah Sumenep. Tapi raja Sumenep tidak ingin itu semua terjadi. Tidak akan segampang itu mereka merebut kekuasaannya. Apa lagi Sumenep ini adalah hidup baginya, rumah dan teman baginya. Takkan segampang itu mereka merebut bagian dari hidupnya ini. Namun, apalah daya beliau sadar bahwa dirinya beserta seluruh prajuritnya tidak akan mampu melawan serangan dari kerajaan Bali, mereka kuat dan memiliki ribuan prajurit. Tak hentinya sang raja mencari cara agar bisa melawan dan memusnahkan kerajaan Bali beserta prajuritnya. Bagaimanapun caranya beliau akan lakukan agar tanah sumenep ini tidak jatuh pada tangan raja Bali.
Akhirnya sang raja memiliki ide yang menurutnya akan berhasil. Beliau akan meminta bantuan pada kerajaan lain yaitu kerajaan Bangil. Karena beliau tahu bahwa kerajaan Sumenep ini tidak akan bediri tanpa berdirinya kerajaan Bangil. Beliau yakin mereka pasti bersedia memberikan pertolongan kepada saudaranya ini. Akhirnya sang raja bersama seluruh prajuritnya pergi ke kerajaan Bangil untuk meminta pertolongan. Dengan harapan yang begitu besar dan keyakinan, akhirnya mereka sampai di kerajaan Bangil. Sang rajapun langsung mengutarakan maksud kedatangannya pada raja Bangil. Tetapi sungguh sangat mengecewakan sekali, rupanya raja Bangil menjawab bahwa beliau beserta prajuritnya tidak dapat membantu kerajaan Sumenep. Namun ada harapan setelah itu, sang raja Bangil menyuruh raja Sumenep untuk meminta pertolongan pada Bhindereh Zuhud, atau yang biasa di sebut dengan Bhindereh Saod. Bhindereh Saod sendiri adalah keturunan dari Syaikh Sayyid Yusuf (Talango). Beliau berdiam di desa Lembung, Lenteng.
Setelah berpamitan pada kerajaan Bangil, raja Sumenep beserta seluruh prajuritnya langsung menuju ke Lenteng untuk menemui Bhindereh Saod. Setelah sampai di Lenteng, sang raja langsung menemui bhindereh Saod dan mengutarakan maksud kedatangannya. Bhindereh Saod tidak mengatakan sepatah katapun, seperti telah mengetahui dengan jelas maksud kedatangan raja dan seluruh prajuritnya. Bhindereh Saod hanya menunjuk ke arah tenggara pulau Madura. Apa arti dari beliau menunjuk kea rah tenggara itu?. Rupanya raja Sumenep sadar, bahwa tempat yang di tunjuk Bhindereh Saod itu adalah Talango. Maksud Bhindereh Saod menunjuk ke arah Talango, agar raja beserta prajuritnya menuju kesana. Disana, mereka akan menemukan pertolongan yang sebenanrnya.  Sementara untuk sampai di Talango, mereka harus menaiki perahu. Maka, tanpa pikir panjang raja beserta prajuritnya langsung menaiki perahu menuju Talango.
Sesampainya di Talango, mereka tidak menemui siapapun. Karena di Talango tidak ada yang menempati. Tapi tiba-tiba mereka melihat sebuah sinar di suatu tempat. Sinar harapan yang akan menjadi titik terang pertolongan mereka. Sang raja beserta seluruh prajuritpun menghampiri sinar itu. Semakin dekat, rupanya sesuatu yang bersinar itu adalah sebuah makam. Entah makam siapakah, namun beliau yakin bahwa ini adalah makam Syaikh Sayyid Yusuf, ayahanda Bhindereh Saod. Dan beliaupun juga mengerti dan paham maksud dari Bhindereh Saod menunjuk ke makam ini. Agar raja beserta seluruh prajurit itu berziarah dan mengaji di makam tersebut.
Raja beserta seluruh prajuritpun segera mengambil wudhu dan segera mengaji disana. Sambil memohon agar mereka di beri pertolongan dan keselamatan dari serangan kerajaan Bali. Raja tidak menginginkan Sumenep di rebut oleh kerajaan Bali. Mereka mengaji dengan sangat bersungguh – sungguh berharap datangnya sebuah pertolongan. Namun bukan pada makam ini, tetap pada Allah SWT. Hanya saja melewati perantara berziarah dan mengaji di makam ini. Segala pertolongan maupun musibah itu datangnnya dari yang Maha Kuasa, Dialah yang memiliki kehendak kepada siapa atau kapan akan memberikan musibah maupun pertolongan.
Di tengah-tengah khusyuknya mereka mengaji, mereka mendengar bahwa tentara Bali sudah hampir sampai di Talango untuk menyerang raja sumenep dan seluruh prajuritnya. Raja Sumenep pun semakin khusyuk meminta dan berdo’a.
Subhanallah,,, di luar akal sehat
ketika tentara Bali menuju ke Talango dengan menggunakan perahu, ombak di antara Talango dan Sepudi tiba-tiba menjadi besar. Padahal air laut yang tadi di lewati raja Sumenep beserta prajuritnya begitu tenang dan tidak ada tanda-tanda akan ada ombak yang begitu besar seperti ini. Ombak yang besar antara Talango dan Sepudi pun menerjang tentara Bali. Sehingga perahu merekapun oleng dan terbalik. Ombak terus saja menggulung perahu mereka, menerjang, mengguncang tentara Bali. Tak sedikit tentara Bali yang meninggal ataupun luka-luka akibat musibah ini. Menurut raja Sumenep ini  adalah sebuah  mukjizat yang di turunkan Allah SWT untuk menolong Sumenep.
Subhanallah, tak henti - hentinya raja Sumenep mengucap syukur dan terus berdoa pada sang pencipta atas pertolongan yang telah Allah berikan ketika itu.
Akibat dari serangan ombak ini, sebagian besar prajurit meninggal dan adapula yang terdampar di Talango.bagi yang masih selamat, mereka ditangkap dan ditawan di daerah pinggir papas oleh raja Sumenep. Hingga saat ini, tempat tawanan itu masih ada dan sering di kunjungi oleh masyarakat maupun peneliti. Karena kebencian raja kepada tentara Bali, raja berinisiatif untuk membunuh mereka yang masih selamat. Namun, hal itu tidak di setujui oleh Bhindereh Saod. Bhindereh Saod bermaksud untuk memaafkan dan menerima para tawanan itu di Sumenep. Sang rajapun setuju dengan usul Bhindereh Saod itu.
Setelah lama tinggal di Sumenep, akhirnya para tawanan itu sadar dan menjadi penduduk asli Madura tepatnya di Sumenep. Maka, inilah sebabnya mengapa di Madura, tepatnya di Sumenep budaya Bali banyak di temukan, seperti petik laut, membakar dupa untuk sesembahan, atau sesajen dan masih banyak lagi budaya Bali yang sampai sekarangpun masih kental di anut oleh masyarakat Madura. Sebuah kabar gembira pula, selain para tawanan menjadi penduduk asli Madura, Bhindereh Saod pun di jadikan menantu oleh raja Sumenep. Karena jasa Bhindereh Saod yang sangat besar dan memang perawakan Bhindereh Saod yang sangat santun. Sehingga raja pun mnyukai Bhindereh Saod. Yang kemudian di juluki Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro. Pernikahan Bhindereh Saod dengan putri raja Sumenep, di karuniai dua orang anak yaitu, Somala Asiruddin Fakunapaningrat dan Sri Sultan Abdurrahman Fakunapaningrat I yang kemudian disebut Raden Ario Notonegoro.
Pada tahun pemerintahan pangeran saccadiningrat II, beliau mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik serta kulitnya yang kuning kemilau. Putri tersebut bernama putri Saini, yang dijuluki dengan Potre Koneng. Setelah Raden Ayu Potre Koneng menginjak remaja, bapak ibunya menghimbau agar ia segera menikah. Namun, ia menolak karena tidak paham masalah perkawinan. la lebih senang berbakti kepada Allah dari pada menikah. Sehingga pada suatu hari, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke goa Payudan. Ia akan bertapa di tempat tersebut. Setelah direstui oleh ibu bapaknya, ia berangkat bersama tiga orang pengiringnya.
Dalam menjalani masa pertapaannya itu, Raden Ayu Potre Koneng tidak makan, tidak minum, dan tidak  pula tidur. Setelah sampai tujuh malam,,,
ketika itu malam ke-14, ia tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi didatangi seorang laki-laki yang roman mukanya sangat tampan. Laki-laki tersebut mengaku bernama Adipoday. Ketika itu Raden Ayu  Potre Koneng terkejut, lalu bangun, “Oh, aku bermimpi,” katanya. Dan pagi harinya ia pulang ke Sumenep.
Hari demi hari, bulan demi bulan yang terus berganti, kini perut Raden Ayu Potre Koneng semakin besar. Ia hamil. Dan kehamilannya itu, membuat bapak ibunya marah, hingga pada suatu hari ia akan dihukum mati. Bapak ibunya tidak kuat menahan rasa malu karena puteri satu-satunya hamil diluar nikah. Bapak ibunya akan sangat malu jika peristiwa ini didengar oleh raja-raja yang lain. Selain itu, akan mencemarkan nama baik kerajaan dan keluarga besar keraton. Begitulah pandangan kedua orang tua Raden Ayu Potre Koneng mengenai kehamilan puterinya. Sang rajapun menjatuhinya hukuman mati. Beliau menyuruh salah satu prajuritnya untuk membunuh putri. Namun, karena prajurit tak tega pada putri, ia tidak membunuh putri melainkan menyuruh putri pergi jauh - jauh dari kerajaan agar raja beranggapan kalau putrinya telah mati.
Kini usia kandungan putri mencapai sembilan bulan, dan pada suatu malam yang bertepatan dengan tanggal empat belas,  Raden Ayu Potre Koneng melahirkan se­orang bayi laki-laki. Sang puteri melahirkan tanpa mengucurkan darah setetes pun, dan tidak mengeluarkan ari-ari. Rupa sang bayi tampak elok, bersih, dan berseri­ - seri, dan tanpa sadar mengingatkan memori sang puteri kepada seseorang yang pernah datang dalam mimpinya.
Dikarenakan sang putri tidak sanggup menahan malu dengan hadirnya sang bayi yang lahir tanpa seorang bapak, akhirnya sang putri menyuruh dayangnya untuk membuang bayi tersebut. Dayang pun membawa bayi itu masuk ke hutan, serta meletakkannya di sebuah tempat yang aman dan rindang. Kemudian meninggalkan bayi yang masih merah tersebut sendiri didalam hutan. Dayang telah melaksanakan tugas sesuai dengan perintah putri. Dan ia pun meyakini bahwa tempat ini benar-benar aman, kemudian ia meninggalkan bayi tersebut dan kembali pada putri.
Diceritakan bahwa di daerah lain, yaitu di Desa Pakandangan (sekarang Pakandangan termasuk Kecama­tan Bluto Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang laki-­laki bernama Empo Kelleng. Dalam kegiatan sehari­ - harinya, ia bekerja sebagai pandai besi. Membuat keris, pisau, dan perkakas pertanian. Di samping sebagai pandai besi, Empo Kelleng juga memelihara kerbau. Setiap pagi binatang peliharannya selalu masuk ke hutan. Dan, bila senja tiba akan pulang dengan sendirinya, lalu masuk ke kandangnya. Begitulah kerbau Empo Kelleng setiap harinya. Dari keseluruhan kerbau miliknya, ada seekor kerbau betina yang berbulu putih mulus dan paling bagus.
Ketika bayi sang putri dibuang ke hutan, kerbau putih itu baru selesai menyusui anaknya. Dengan kuasa Allah, ketika sang bayi diletakkan di hutan, secara diam-diam kerbau putih tadi berlari – lari  ke tempat bayi itu, lalu menyusuinya. Di samping menyusui, kerbau putih itu menjaganya agar tidak sampai dimakan binatang buas. Sampai akhirnya hal itu di ketahui Empo Kelleng. Akhirnya Empo Kelleng mengikuti kerbaunya ke bawah pohon, tempat dimana kerbau menyusui sang bayi. Setelah Empo Kelleng sampai di bawah pohon, ia mendapati seorang bayi laki-laki yang sedang disusui kerbau miliknya. Raut wajahnya sangat tampan dan berseri-seri. Betapa senangnyanya hati Empo Kelleng sebab dirinya memang sangat mendambakan ketu­runan. Ia langsung membawa pulang sang bayi dan menceritakan semuanya pada istrinya. Istrinya pun merawat sang bayi dengan penuh kasih sayang. Bayi tersebut diberi nama “Jokotole”.
Setelah beranjak dewasa, kesaktian Jokotole mulai tampak. Dia pandai membuat perkakas dari besi tanpa alat satupun. Hal yang paling di sukainya adalah berkuda.
Suatu hari ia menunggangi kudanya dari Sumenep ke Pamekasan, tiba-tiba ketika sampai di suatu daerah perbatasan antara Sumenep dan Pamekasan kudanya berhenti dan beristirahat. Dalam bahasa Madura, ketika suatu hewan beristirahat itu di sebut “arenduh”. Maka dari itu sebuat tempat yang di jadikan tempat istirahat kuda Jokotole ini, di sebut dengan “Prenduan”. Sampai saat inipun warga Prenduan sendiri masih sangat hafal benar tentang asal muasal nama Prenduan ini.
Di katakana pula, dahulu kala ketika penjajahan Belanda, para kolonel belanda menjadikan tempat tersebut sebagai tempat singgah melepas lelah ketika menuju ke Sumenep. Nah, begitulah kisah asal muasal nama Prenduan.

0 komentar:

Posting Komentar